Puisi Galau

Naning Scheid

PERJALANAN

Kereta besi sabtu itu mengantarmu menuju impian baru
Cita-cita masa depan dimana aku tidak ada di dalamnya.

Tentu, kau tidak mengerti galauku – lebay tingkat dewa, ejekmu
Seperti juga kau tidak pernah memahami puisiku,
Hanya gerombolan kata yang sulit kau cerna
Terbaca setengahnya
Selebihnya, kau muntahkan
Kau gantikan dengan obat sakit kepala.

Dibalik jendela kereta,
Kemuning pepohonan berlari – menghitam. Sekilat lupa akan dendang “Tum Hi Ho” untukku Dulu, awal kau merayu.

Kini, Via Vallen menemanimu
Membisik-bisik sayang
Mendesah-desah merdu
Di dua daun telinga yang luput dari ciumanku.

Kau, memimpikanku dengan mata terbuka Benakmu sibuk dengan petualangan yang terdaftar dalam agenda kesenangan – bahtera baru.

Tak berbuat banyak tatkala lebah menyengat harapku
Rintihku tak terdengar
Lukaku sembab
Nanar
Merah berbungkus pasrah
Tak terlihat di dua bola matamu yang dulu sering membuatku malu-malu.

Kau, menghikmati kemenanganmu diatas bangku kereta yang melaju
Membunuh romantika masa itu
Mengabai setiap detak kencang yang membekas tajam.

Perjalananmu,
Kekalahanku
Takdir kita
Teka-teki terjawab di altar kehidupan
Garis hidup yang tidak mungkin di protes – di demo – apalagi berjilid-jilid.

Dan itulah kamu, menjengkelkan – menggemaskan
Dan inilah aku, melepaskanmu – berhenti berharap
Mencari makna bijak di setiap lipatan pedih.

Brussel, 27.4.18

ENTAH

Ada puisi dalam hati yang tersakiti
Ada sajak dalam cinta yang bersorak
Ada kamu, ada aku.
Ada kemesraan, ada tangisan.
Hari ini, semua menjadi kenangan.

Brussel, 4.12.17

MIMPI YANG BERDURI

Mengeja asa dengan bibir terbata, berpangku dzikir dan doa. Kerinduan, mengalir dari hati – membuah airmata yang jatuh ke pipi

Nak, aku memikirkanmu tiap waktu, membentang harap terbaik untukmu

Nak, betapa kangenku berujung sendu. Berhitung harimu demi uang kirimanku

Suamiku, adakah setiamu ? Sering kau online tapi tidak denganku. Benar, aku mengerti kesepianmu. Tapi mengertikah kau kepedihanku ?

Bergelut dengan musim yangt tak sama, budaya berbeda menjadi siksa. Lidahku kelu tanpa nasi sehari tiga kali. Cambukan disaat majikan tidak hepi

Luput dinodai adalah kebahagiaan, hari tanpa senyum adalah kebiasaaan. Kualitas kerjaku tak pernah dihormati. Dianggap normal, tanpa bonus saat digaji

Di negeri asing, kutanam mimpi penuh duri, biarlah menusukku sendiri. Kubalut dengan kasa kesabaran

Karena masa depan keluarga butuh pengorbanan.

Brussel, 8 Maret 2018 – Empati untuk para pekerja wanita hebat di luar Indonesia

Koleksi Puisi Naning Scheid lainnya:


Puisi Gokil


Puisi Satire


Puisi Sedih


Puisi Lebay


Puisi Masygul


Puisi Obscure


Puisi Dedikasi


Puisi Semarangan


Puisi Romantis

10 Comments