Where words leave the page and meet the world :
Let’s Connect

Bunga-Bunga Iblis

Naning Scheid brings Baudelaire’s legendary Les Fleurs du Mal to Indonesian readers, preserving its dark beauty, erotic tension, and haunting lyricism. This translation captures the scandal, wit, and poetic brilliance that made the original a cornerstone of 19th-century French literature, allowing a new audience to experience the mystery, intensity, and subtle power of Baudelaire’s verse.

𝘓𝘦𝘴 𝘍𝘭𝘦𝘶𝘳𝘴 𝘥𝘶 𝘔𝘢𝘭 karya Charles Baudelaire menampilkan diri sebagai karangan bunga puitis; terbuat dari bunga-bunga terlarang, beracun, dan beraroma asing. Diterbitkan pertama kali tahun 1857, buku ini langsung menuai skandal. Enam puisi disensor oleh rezim Kekaisaran Napoléon.

𝘓𝘦𝘴 𝘍𝘭𝘦𝘶𝘳𝘴 𝘥𝘶 𝘔𝘢𝘭 bukan sekadar antologi puisi, melainkan 𝘮𝘢𝘴𝘵𝘦𝘳𝘱𝘪𝘦𝘤𝘦 yang telah mengguncang dunia melalui kejeniusan Baudelaire yang kontroversial. Sejak tahun 1861 hingga 1868, antologi tersebut telah dicetak ulang dalam tiga versi dan diperkaya dengan puisi-puisi baru. Dari ketiganya, para puritan sastra menilai edisi terbaik adalah versi 1861.

Judul: 𝘉𝘶𝘯𝘨𝘢-𝘉𝘶𝘯𝘨𝘢 𝘐𝘣𝘭𝘪𝘴

Penulis/Editor: Charles Baudelaire (penerjemah: Naning Scheid)

Tebal: 238 halaman

Dimensi: 145 x 210 mm (A5)

Harga Rp. 119.000,-

Setelah hampir dua abad, akhirnya mahakarya dari salah satu pujangga terbesar Prancis tersebut hadir untuk masyarakat bahasa Indonesia, di dalam negeri maupun di luar negeri. Edisi 1861 saya terjemahkan dengan penuh dedikasi dan memberinya nama “Bunga-Bunga Iblis”.

𝘉𝘶𝘯𝘨𝘢-𝘉𝘶𝘯𝘨𝘢 𝘐𝘣𝘭𝘪𝘴 merupakan pintu masuk lanskap persajakan Prancis klasik. Ia setia mempertahankan struktur asli yang khas sekaligus menyuguhkan musikalitas puisi Baudelaire dalam bahasa Indonesia. Ia memberikan akses kepada pembaca untuk merayakan kebebasan artistik dan menantang batas-batas estetika konvensional. Ia mengundang pembaca untuk menyelami akar perkembangan sastra modern serta meresapi sebuah perjalanan jiwa yang melampaui waktu dan budaya.

𝘉𝘶𝘯𝘨𝘢-𝘉𝘶𝘯𝘨𝘢 𝘐𝘣𝘭𝘪𝘴, saya ingin mengajak pembaca menjelajahi kekayaan pikir penyair, roh, dan kejujuran ekspresinya. Selamat menikmati!

– Naning Scheid

 

Share this :