Poetry & Prose

SONETA ALEKSANDRINA: Puisi-Puisi Naning Scheid

Ilustrasi puisi. (Arsacadipura)

Oleh: Naning Scheid*

Soneta Berengsek untuk Kekasih Baik

tutup diam-diam jendela yang menghadap rumah tetangga
    biarkan televisi menyala, kancing bajumu terbuka
        mari berhenti menyangkal hasrat fatal
            dari rindu-rindu kolosal;

            tunjukkan kelembutanmu yang kasar
        sebab tanganku mulai bosan melangsar
    bungaku lelah bergetar pada tipis kejahatan
dalam ranum tebal durjana kesendirian.

        karena kau yang baik telah memilihku
        meletakkan tiara di kepala telanjangku
            maka kuberikan padamu
        : kebenaran cinta yang jelas & tegas !
            dan soneta berengsek ini
                    menjadi saksi

Brussel, Februari 2024


 

Soneta PIUPIU

Segala yang mbelgedes bagi orang lain, kupikirkan,
kuambyarkan berkali-kali, lalu kuikatkan kembali.
Kucoba mensapardikannya ke dalam rangkaian
ndakik-ndakik romantis yang biasa disebut puisi.

Bunga-bunga spleen, kubaudelairekan,
kurimbaudkan iluminasi gelap pikir & hati.
kuvictorhugokan misérables kehidupan,
bahkan 2X kusautsitumorangkan luka negeri!

kuingin menulis untuk keabadian bagai Pramoedya
kumau hidup 1000 tahun lagi (seperti kata Chairil)
sial! sajak-sajakku jungkir balik & ganjil

percuma hidup lama sia-sia
meski ribuan kontemplasi, aku
Piupiu O Piupiu! Piupiu saja!

Brussel, Februari 2024


 

Soneta IBU JOGJA

Ibu Jogja mengandung Cak Nun & Rendra
melahirkan Umi & Jokpin, merawat mereka
                hingga dewasa;
ia, ibu susu bagi Umbu,
    BuSet, Imam Budi,
        Saut & Sunlie

Seperti Gaia, Ibu Jogja tak hanya
mengandung, melahirkan & merawat dewa-dewa saja;
ia juga ibu para Titan,
    Kiklops, Amien, Anies & kawan-kawan.

Sebagai protogenoi pertama
Ibu Jogja terbuat dari Cinta,
        Doa,
    & Hokya Hokya.

Brussel, Februari 2024


 

Soneta Nonchalance

ah, biar biarlah aku dicatat malaikat
sebagai perempuan kufur nikmat
saat selebriti mendekat

aku lari sembunyi bertameng puisi
dan segala yang maha lebay
kujadikan alasan untuk say goodbye

ah, biar biarlah aku dicatat malaikat
sebagai perempuan cacat sebab takberbakat
menangkap rangsang cahaya & warna inginnya
sensorikku disfungsi pada fantasi yang ia miliki;

ya, biar biar sajalah aku kaulaknat
sebab bagiku yang bulat itu donat hatimu?
bilangan berpangkat & akar kuadrat.

Brussel, Februari 2024


Soneta Aleksandrina: Dari Mberok ke Meuse

Selamat tinggal Sungai Mberok berlumpur
tempat limbah, sampah plastik bertafakur.
Selamat tinggal babat gongso Pak Karmin
dan kenangan dugderan dengan Bu Amin.

Jiwaku, rakit dari bambu, dahaga
kelana menyusuri sungai dunia.
Rakit polos, berbau rebung lumpia
akhirnya terdampar di Meuse, Belgia.

Sungai Meuse bening berhati terbuka
Menyila rakit menetap selamanya
Usai masa kembara, rakit membatu

Di antara arus Meuse, dua windu:
terlintas hangat comberan Sungai Mberok,
bising Pasar Johar & pedas mie kopyok.

Brussel, Februari 2024


 

*Naning Scheid, penulis, penyair, penerjemah, dan aktris teater berkebangsaan Indonesia yang menetap di Belgia. Bukunya: Melankolia – Puisi dalam Lima Bahasa (Pustaka Jaya, 2020), Novela Miss Gawky (Pustaka Jaya, 2020), Fable de La Fontaine: Edisi Dua Bahasa Prancis – Indonesia (GoogleBooks, 2021), Puisi sebagai Autobiografi (JBS, 2023), Bunga-Bunga Iblis (Pustaka Jaya, 2024)

Share this :