puisi naning scheid

Getir Malam di Stasiun Lempuyangan*

Pada binar ruang di samping loket, angin mewakili bisu yang riuh; potongan hati tempo hari – jatuh, terserak di keramik retak

Lalu kita bersikap selayak teman, menerbang jauh kemesraan, menutup rapat ruang rasa, masa depan kebersamaan tak temui tuannya

Begitulah…

Saat peluit kereta berbunyi rintih. Kuletakkan cinta pada bangku kosong, melenggang tanpa menoleh lagi, mengemas luka di tempat ini

Kereta melaju, meninggalkan pohon pohon ingatan, monumen dan tugu janji – janji

Sebaiknya aku pergi…

 

Brussel, 5.11.18

*Stasiun Lempuyangan berada di Yogyakarta.

Balada Asmara Karti Sastro

Tanpa kata Sastro melumat bibir Karti
Bangku kayu di rimbun beringin tua menjadi saksi
Sang muda mudi di gelap sepi
Meluapkan hasrat birahi

Malu mau tapi ragu, Karti membiarkan Sastro menikmati indahnya
taman kota sembari tangan jahilnya terus bergerilya

Tanpa basa-basi, mungkin sudah terbiasa
Sastro mulai jurus-jurus mautnya
Panahnya menusuk tepat di dada
Karti merintih mengiba
Limbung antara cinta dan dosa

Menitik air mata Karti saat Sastro usai menodai
Hilanglah mahkota
Di antara semak kotor dan sampah kota

Sastro berlalu
Melangkah jauh sembari meneguk air mineralnya
“Serendah itukah nilai cintaku?” isak Karti mengiba

O, nasibmu Karti, monyet lugu dan dungu.
Cinta itu saling memberi bukan mencuri

O, Sastro, monyet rupawan gombalnya level kahyangan
Lalai darma tak sadar karma menanti di ujung cerita.


Badung, Kuta. 17.7.18

*) Bila ada kesamaan nama itu hanya kebetulan saja. Tidak ada maksud untuk menista.

 

Senandung Risau Anak Krakatau

Dua-puluh-dua Desember, rengekmu ku dengar

Menggelegar memerah samudra biru. Menggumpal putih pekat gas dan abu

Ceritakan gaduhmu tentang kesunyian. Senandung bunga bunga risau bermekaran

Aku, setia mematung sabar mendengar. Gemuruh nanar terlipat memantik gelegar

Tenanglah tenang Anak Krakatau sayang. Jangan lagi murkamu menjelma tsunami. Jangan lagi gusarmu membuah gempa bumi

Dengar rintihan Pantai Carita mendendang lagu pedih. Tentang mayat mayat berserakan. Terombang ambing diantara ombak dan puing-puing

Tentang jiwa jiwa karam. Menuju awan sebelum berkata selamat tinggal. Tentang tubuh tubuh luka. Membiru memar dalam tangis trauma

Tentang air mata Indonesia

Dengar pula lantunan ribuan doa doa. Mengiba meminta amukmu tersudahi. Cukuplah nestapa untuk anak-anak negeri. Memanggil seuntai bijak kemarau hati

Darimu, Anak Krakatau, kami meminta : Damailah… Senyumlah…

 

Brussel, 25.12.18

Ibu, Inikah Tanah Airmu?

Tanah tumpah darah,
Lautan darah.

Senyum ramah penduduk beribu pulau surga, beku.
Wajah anggun pertiwi, muram.
Suara lembut ajaran cinta sesama, bisu.

“Ibu, inikah tanah airmu?”
“Nak, tanah air ibu penuh kasih.
Garuda bangsa tetap kokoh mencengkeram Bhinneka Tunggal Ika.”

“Ibu, siapa mereka?”
“Jiwa-jiwa tak ber-Tuhan dan tak berkebangsaan.
Hilang asih dan nalar.
Doakanlah.
Maafkanlah.”

Brussel, 13.5.18

 

Menuju Nigeria

Para kanibal bergentayangan. Tak tahu waktu, pagi sore dan malam. Menebar seribu satu ketakutan. Bangga tertawa menjadi jahanam

Bau anyir darah tubuh berserak. Potongan potongan badan adalah pemandangan alam

Lihat, semua mati disini: pria, wanita, anak-anak!

Menjadi seongok daging tercecer di cabik Boko Haram. Dan burung-burung hering pun berpesta. Hanya mereka yang bahagia, saat bapak-bapak terkencing

Menyaksikan ibu-ibu dipaksa bersenggama – dengan mesin pencuci otak, berakhir bunting. Beranak martir.

Oh, lihatlah kawan!

Betapa congkaknya para serdadu karbitan. Bedilnya besar mencuri ratusan perawan. Ditembak, dianiaya, diperdagangkan

Aku disini hanya menulis puisi. Menangisi jiwa-jiwa yang pergi. Tak bisa berbuat banyak, selain menabur doa. Bagi nyawa-nyawa terkoyak di Nigeria.

 

Brussel, 28.01.19

Misteri Tragedi Gunung Merapi

Malam gamang menembang keramaian. Sayup ghaib Pasar Bubrah dalam gamelan. Hembusan angin dingin ringkih merintih. Pendaki gunung gigih bergidik sulih

Kabar burung bertahun menggurat. Melahir percik percik esensi religi. Adalah Empu Rama dan Empu Permadi. Pembangkang Batara Guru, terjerat mudarat

Terkubur di perut merah abadi. Gunung Jamurdipo, ternama Merapi. Dan diantara yang astral, Nyai Gadung Melati. Bertengger di Gunung Wutoh, Kraton Merapi

Dewi Pelindung ternak, pengaba kaum murba. Melayang sasmita prayitna sebelum letusan tiba. Tanah pegunungan berkali melukis pedih

Tragedi Mbah Maridjan, Sang Juru Kunci. Mas Penewu Surakso Hargo berhati putih. Tubuh bersujud takzim terkoyak erupsi

Misteri terbayang selaksa kekuatan hakiki. Menggertak menakuti tiga-empat generasi. Demi kearifan menjaga alam dan lingkungan. Pohon serta hutan tak di tebang sembarangan

Hélas, tragedi terjadi dalam ruang kenaifan. Menggenggam janji satria menolak waspada

Wahai jiwa jiwa suci, tengoklah kearifan. Sejatinya, kita hanya punya satu nyawa !

 

Brussel, 25.12.18

Sobat

Percayalah, aku merasakan kecemasanmu, kawan…
Hadirku untukmu berupa doa
Yang melintasi batas antar negara
Melalui dua samudra
Semoga segera kau temukan senyum
Diantara awan hitam yang menyelimutimu.

Brussel, 27.11.18

Elegi Kawah Gunung Ijen

Ada yang sejati indah di tempat ini. Menyusuri ketinggian sepuluh ribu kaki. Rembulan malam mengiringi

Memasuki kawah gunung berapi. Jutaan mata takjub akan panorama. Api biru meliuk binal memuntah ke tanah. Menyisir dini hari dalam kabut pesona. Permadani pirus semolek savannah

Ada yang sejati indah di tempat ini. Jiwa jiwa besar tak takut mati. Punggung bungkuk memikul welirang. Paru terkoyak asap beracun menerjang. Pundak tebal seperti kapal. Kepulan sulfur terhirup menggumpal

Demi mimpi masa depan benderang. Para penambang menggali belerang. Mimpi fatamorgana berharga tinggi

Sampai kapan elegi membumi di tempat ini ?

 

Brussel, 28.12.18

Diam Diam

Masa masa diam bak tikaman pisau di tangan
Tidak mematikan namun menyakitkan
Airmata pedih di kolong pengharapan
Mengairi sudut pipi kesunyian
Menyusuri jalan jalan bisu pembiaran
Ketidakperdulian

Masa masa diam bagai misteri teka teki
Bersabar menjaga hati atau melarikan diri
Bercakap tanpa kata dalam angan
Menyapa hari tanya berkepanjangan
Mengairi sudut pipi kesunyian
Melatih jiwa letih tertatih pedih,
Bangkit bersemi

Diam diam kubiarkan masa masa diam
Diam diam kunikmati keheningan

Masa masa diam adalah masa menuju perpisahan

Brussel, 2019

Puisi ini terbit di Pos Bali 14 Desember 2019 halaman 10.

Surat untuk Ibu

Sekarang, kau bebas berlari ibuku sayang. Jiwamu ringan, terbanglah kau terbang. Raga sakitmu tak lagi membelenggu

Kemarilah, datangi kami semaumu. Tak perlu lagi kau pikirkan prosedur apapun. Passport, jenis Visa atau Medical test sekalipun. Tak ada lagi hukum batas negara yang menghalangi. Menengok kehidupan kami, melihat kebahagiaan kami

Sungguh, engkau tak lagi sendiri ibuku. Engkau bersama orang-orang yang menyayangimu. Bersama orang tuamu, bersama ayahku, suamimu

Kubayangkan bahagiamu dalam imajinasiku. Ibu, maafkan anakmu…

Tak mampu menemani di saat-saat terkhirmu. Seandainya aku bisa memutar waktu. Tentu saat itu, aku akan bersamamu, selalu. Datangku, beberapa jam setelah ragamu disemayamkan

Aku terlambat, memberi kecupan terakhir. Rinduku, cintaku, sayangku belum tuntas kukatakan. Sesalku dan berontakku pada takdir

Masih teringat terakhir kali kita bertemu. Antusiasmu melihat anak-anakku. Gelak tawamu bermain dengan cucu-cucumu

Itulah kenangan terindah tentangmu. Selamat jalan ibu. Kelak kita pasti bertemu.

 

Brussels, 8 Maret 2018 – Penyesalan anak rantau di hari pemakaman sang Ibu

Koleksi Puisi Naning Scheid lainnya: